Never underestimate the power of your dream!


Power of Your Dream: Kisah Nyata Mengubah Imajinasi Menjadi Realita

Pernahkah Anda merasa bahwa mimpi Anda terlalu besar untuk ukuran hidup Anda yang sekarang? Atau mungkin, Anda sering mendengar bisikan ragu yang mengatakan bahwa orang seperti kita tidak layak bermimpi setinggi langit?

Kalimat "Never underestimate the power of your dream" mungkin sering kita temukan di poster-poster motivasi atau kutipan di media sosial. Namun, di balik kesederhanaannya, ada sebuah energi atomik yang mampu mengubah arah hidup seseorang secara radikal.

Bagi para pelajar yang tengah berjuang dengan buku pelajaran, atau profesional muda yang sedang meniti karier di tengah ketidakpastian, memahami power of your dream bukan sekadar tentang optimisme kosong. Ini tentang strategi, resiliensi, dan keberanian untuk tetap berjalan saat semua pintu terlihat tertutup.

Artikel ini bukan sekadar teori. Ini adalah sebuah catatan perjalanan hidup, sebuah kisah nyata tentang bagaimana sebuah imajinasi sederhana dari seorang anak remaja dari kota kecil di pegunungan Sulawesi Utara perlahan-lahan bermanifestasi menjadi kenyataan di panggung internasional.

 

Bagian 1: Benih Mimpi di Kota Bunga

Perjalanan ini bermula pada tahun 1988 di sebuah tempat bernama Tomohon. Saat itu, Tomohon belum menjadi kota otonom seperti sekarang; ia masih berstatus kecamatan di Sulawesi Utara. Udara di sana sejuk, dikelilingi oleh pegunungan dan perbukitan, dan jauh dari hiruk-pikuk industri pariwisata dunia. Masa itu kota kecil ini terkenal sebagai kota siswa dan kota hujan.

Di sebuah sudut kecil di bagian selatan kota Tomohon, Malam itu, seorang anak laki-laki duduk terpaku di depan meja belajar di kamarnya. Dia baru saja pulang dari menonton film di bioskop,  dan memikirkan film drama komedi romantis berjudul “Cocktail” yang baru saja ditontonnya.

Aktor utamanya, Tom Cruise, memerankan sosok bartender yang begitu mempesona. Di mata anak desa itu, sosok tersebut bukan sekadar penyaji minuman; ia adalah simbol kepercayaan diri. Ia mahir melakukan juggling botol dengan presisi yang artistik, tampak atraktif, seorang yang ambisius, dan ia bertemu dengan banyak kostumer dengan berbagai karakter dan cerita di counter bar setiap malam.

Pada saat itu, sebuah benih tertanam di hati anak tersebut. Sebuah pertanyaan muncul: "Bagaimana ya rasanya kalau saya bisa seperti itu?"

Bagi anak yang tinggal di Kecamatan Tomohon, mimpi menjadi seorang bartender terasa seperti lelucon. Dunia pariwisata dengan gedung hotel megah, bar dan restoran dengan kehidupan malam yang glamor masih sangat awam dan bahkan cenderung negatif di kalangan masyarakat umum di masa itu.

Tidak ada sekolah perhotelan atau pariwisata di dekat rumah. Tidak ada turis asing yang bisa dijadikan teman berlatih bahasa Inggris. Namun, itulah sifat dasar sebuah mimpi; ia tidak butuh izin dari lingkungan untuk tumbuh.

 

Bagian 2: Dukungan dalam Keheningan

Dalam fase ini, ada satu sosok yang menjadi pilar tanpa banyak bicara: Sang Ayah.

Banyak orang berpikir dukungan harus berupa sorakan atau nasihat panjang. Namun, ayah saya menunjukkan dukungan melalui kehadiran dan kepercayaan. Beliau tidak pernah secara eksplisit bertanya, "Apa cita-citamu?" atau memaksa saya menjadi ini dan itu. Namun, di setiap langkah kecil yang saya ambil, saya bisa merasakan harapan besarnya.

Dukungan tanpa kata-kata ini justru memberikan ruang bagi saya untuk bertanggung jawab atas mimpi saya sendiri. Beliau seolah-olah memberikan kanvas kosong dan membiarkan saya melukis apa pun di atasnya, sembari memastikan saya punya kuas dan cat yang cukup untuk memulainya.

Pelajaran bagi para profesional muda: carilah support system yang tidak mengekang, dan bagi para orang tua, terkadang kepercayaan dalam diam adalah pupuk terbaik bagi masa depan anak. Jangan pernah meremehkan cita-citanya.

 

Bagian 3: Fondasi yang Sering Diremehkan

Masalah terbesar dalam mewujudkan mimpi adalah banyak orang ingin langsung sampai di puncak harapannya tanpa mau melewati lembah persiapan, jurang pengorbanan, dan jalan menanjak berbatu untuk berproses. “Melelahkan, memang!” Tapi anak desa ini menyadari satu hal: jika ia ingin menjadi bartender dan go internasional, ia harus menguasai "bahasa dunia".

Maka, mulailah sebuah perjalanan panjang belajar bahasa Inggris secara otodidak. Tanpa bantuan YouTube (yang saat itu belum ada) atau aplikasi kursus online, ia mulai mengumpulkan kosakata demi kosakata. Ia tidak tahu kapan kemampuan ini akan digunakan, ia hanya tahu bahwa ia harus siap saat kesempatan itu datang.

Inilah yang sering saya sebut sebagai Langkah Kecil yang Diremehkan. Banyak orang gagal karena mereka terlalu fokus pada tujuan akhir dan meremehkan proses harian yang membosankan. Namun, justru di dalam kebosanan itulah otot karakter kita dibentuk.

Ada yang melihat kesuksesan sebagai suatu keberuntungan semata. “Itu memang rejekinya!”. Yang tidak dilihatnya adalah proses persiapan dari “orang beruntung” tersebut.

 

Bagian 4: Transisi ke Pulau Dewata

Beberapa tahun kemudian, takdir membawa anak desa dari Tomohon ini ke Bali. Langkah kaki pertamanya mendarat di PPLP Dhyana Pura Bali (yang kini telah bertransformasi menjadi Universitas Dhyana Pura atau Undhira).

Di kampus ini, dunia pariwisata yang dulu hanya ada di layar kaca mulai menampakkan wujudnya. Bartender menjadi salah satu mata kuliah favorit saya di departemen Food and Beverage Service. Menariknya, motivasi saya saat itu bukan lagi tentang mendapatkan nilai akademis A di atas kertas. Saya belajar karena saya jatuh cinta pada prosesnya. Saya ingin menjadi terampil, baik secara skill (keterampilan tangan dalam meracik dan juggling) maupun knowledge (pengetahuan tentang produk dan budaya layanan).

Metode belajar saya adalah menyugesti diri sendiri untuk memposisikan diri sebagai dosen yang akan memberikan kuliah.

Bagi Anda para mahasiswa atau profesional yang sedang mengambil sertifikasi, belajarlah untuk menguasai kompetensi, bukan sekadar mengumpulkan sertifikat. Nilai akan mengikuti kualitas, namun kualitas tidak selalu mengikuti nilai.

 

Bagian 5: Ujian Nyata dan "Filosofi Botol Pecah"

Sebelum melangkah ke tugas akhir atau skripsi, selama lima semester, saya mendapatkan kesempatan berharga untuk melakukan On the Job Training (OJT) di beberapa hotel di Kuta, Jimbaran, dan Nusa Dua, Bali. Di sinilah teori bertemu dengan realitas yang keras. On the job training harusnya hanya dua semester saja, tapi saya ambil lima semester di beberapa hotel dengan berbagai departemen yang berbeda. Tiga semester lainnya saya kuliah sambil training. Tidak ada waktu untuk bersantai, tapi saya menikmati prosesnya.

Mimpi yang terlihat indah di film Cocktail ternyata menuntut pengorbanan. Saya memilih topik skripsi yang cukup berisiko pada masa itu: Atraksi Bartender. Objek penelitian saya tidak main-main, yaitu Hard Rock Cafe Kuta, tempat di mana standar pelayanan dan hiburan berada di level tertinggi.

Proses latihan atraksi bartender cukup menguras energi dan waktu.

·         Botol pecah berkali-kali: Lantai latihan menjadi saksi bisu kegagalan demi kegagalan.

·         Kepala benjol: Lemparan botol yang meleset sering kali mendarat di kepala sendiri.

·         Tanpa Mentor: Saya harus mengamati, mencoba, gagal, dan mengulanginya lagi secara mandiri.

Namun, di tengah rasa sakit dan lelah itu, saya memegang satu formula yang kini selalu saya bagikan kepada audiens muda:

·         1% Set Your Goal: Tentukan apa yang benar-benar kamu inginkan. Dalam hal ini saya memutuskan menjadi bartender yang mahir atraksi.

·         1% Just Do It: Mulai saja, jangan menunggu dan menunda apa yang bisa kamu kerjakan sekarang.

·         98% Don't Give Up: Jangan berhenti hanya karena 10 kegagalan, 100 kritikan dan 1000 orang yang mencemooh usaha kamu.

 

Bagian 6: Ketika Kerja Keras Bertemu Kesempatan

Saat kita fokus mengembangkan diri, kesempatan akan datang mencari kita. Karena dedikasi saya selama praktik dan kemampuan komunikasi yang terus diasah, manajemen di tempat saya bekerja melihat potensi tersebut. Saya ditawari kerja, bahkan ditawari kerja di Eropa oleh tamu yang sering datang ke bar hanya untuk ngobrol dan bertemu saya. Kalau mau kasih tip, saya diajak ke luar dulu dan dikasih sembunyi-sembunyi. Lumayan!

Momen ketika saya berdiri di balik meja bar, disaksikan banyak tamu mancanegara saat melakukan juggling, dan melayani tamu dari berbagai negara dengan bahasa Inggris yang saya pelajari sendiri, adalah momen kemenangan spiritual. Di situ saya menyadari bahwa mimpi tidak pernah salah; yang sering salah adalah cara kita memperlakukannya. Kepuasan batin tidak akan pernah tergantikan oleh materi apa pun.

 

Bagian 7: Pelajaran untuk Masa Depan Anda

Kenapa Anda tidak boleh meremehkan mimpi Anda? Karena mimpi adalah:

1.      Arah Hidup: Tanpa mimpi, kita hanya akan mengikuti arus orang lain. Bahkan mungkin Anda jungkir-balik untuk membangun mimpi orang lain. Segera ambil buku dan catat mimpi Anda sebelum terbang dan menghilang.

2.      Sumber Motivasi: Saat Anda lelah dalam pekerjaan atau studi, mimpi adalah alasan mengapa Anda harus bangun besok pagi, mimpi adalah bahan bakar Anda untuk terus berjalan sekalipun berat, dan yang paling penting, mimpi adalah kompas Anda untuk terus maju.

3.      Alasan untuk Terus Bergerak: Mimpi memaksa kita keluar dari zona nyaman.

Untuk para profesional muda, ingatlah bahwa karier Anda saat ini mungkin hanyalah satu bab dari buku besar kehidupan Anda. Jangan takut untuk memiliki visi yang lebih besar dari posisi Anda sekarang. Hidup itu singkat. Bertindaklah: “Fight for your dream!” Di masa tuamu, kamu akan berterima kasih karena menolak menyerah di masa mudamu.


Closing

Kisah ini bukan sekadar narasi untuk memotivasi Anda di pagi hari. Setiap tetes keringat, setiap pecahan botol, setiap proses panjang, dan setiap keraguan saat berbicara bahasa asing pertama kali adalah bagian dari sejarah pribadi saya sebagai penulis. Saya adalah anak desa dari Tomohon itu. Saya adalah saksi hidup bahwa keterbatasan ekonomi dan akses bukanlah tembok, melainkan tangga. Jika saya bisa melangkah dari sebuah kecamatan kecil menuju dunia internasional hanya dengan bermodalkan sebuah mimpi dan konsistensi, maka tidak ada alasan bagi Anda untuk menyerah hari ini.

So, never underestimate the power of your dream. Start where you are, use what you have, and do what you can.


Blog ini GRATIS dibaca semua orang.
Jika artikel ini menginspirasi dan membantu Anda,
Anda bisa mendukung blog ini agar saya terus membuat konten berkualitas.



  


Komentar

Top 10 articles

About me

Cara belajar jadi Content Creator: Panduan lengkap & strategi cuan 2026

Cara Menghasilkan Uang dari Hobi: Panduan Lengkap Monetisasi Hobi untuk Pemula

Sale your hobby!

7 Kesalahan parenting yang membuat anak jadi penakut

Big Fish vs Small Fish: Mengapa Strategi Karier Anda Harus Lebih dari Sekadar Menjadi "Ikan"?

Daftar 10 Hobby menghasilkan uang

Bosan dirumah aja? ini 7 aktivitas bermanfaat untuk hilangkan kejenuhan

How Muay Thai is inspiring youth leadership in Thailand

6 Alasan mengapa mau jadi konten kreator. Kamu yang nomor berapa?